Green Heart Movement: Apresiasi Budaya Nusantara
Indonesia sebagai bangsa yang besar memiliki sejarah yang cukup panjang tentang kebudayaan, bahkan seorang scientis asal Brasil Prof. Arysio Santos dalam bukunya Atlantis, The Lost Continent Finally Found dengan jelas membuktikan bahwa secara geologis dan penghitungan fisika nuklir serta pendekatan kajian etnolinguistik, tafsir kitab suci, arkeologis, dan filosofis adalah Indonesia. Setelah melakukan penelitian selama kurang lebih 30 tahun dan menemukan bukti-bukti meyakinkan, Prof Arysio Santos, Ph.D. memastikan kepada dunia bahwa situs Atlantis adalah Indonesia.
Jika memang demikian adanya maka tidaklah mengherankan jika Indonesia dikemudian harinya mampu menunjukan bukti-bukti sebagai sebuah wilayah yang memiliki peradaban tinggi, faktanya bisa kita lihat dari peninggalan-peninggalan sejarah bangsa ini. Salah satunya adalah karya cipta berupa seni yang indah dan memiliki nilai kesadaran tinggi, bukan hanya sekedar bunyi namun bunyi yang penuh arti, juga bukan sekedar indah di mata namun bergetar di dalam jiwa.
Dalam rangka mengapresiasi, menghomati dan mensyukuri anugerah luar biasa yang telah diberikan oleh Sang Maha Indah kepada kita semua pada tanggal 17 April 2010 Green Heart Family Jakarta di bawah asuhan Erbe Sentanu pendiri Katahati Institute dan penulis buku Quantum Ikhlas berkolaborasi bersama Batuan Ethnic Fusion yang dipimpin oleh seorang musisi handal Indonesia I wayan Balawan yang sangat dikenal di mancanegara dengan julukan Magic Finger yang juga merupakan judul album kedua yang telah diciptakannya.
Dua hati dipertemukan dalam satu acara bertajuk Apresiasi Budaya Nusantara. Dua orang luar biasa yang ternyata membawa pesan yang sama dalam setiap karya ciptanya. Erbe Sentanu dengan dunia self development yang digelutinya berhasil memadukan budaya timur dan teknologi barat sehingga lebih mudah dipahami dan diaplikasikan oleh pembacanya, sedangkan I Wayan Balawan yang tetap konsisten dengan karya cipta musik dan lagunya yang kental dengan tradisional Bali yang dipadukan dengan tehnik dan alat musik modern sehingga terasa indah di telinga dan menyentuh di hati.
Kepiawaian keduanya dalam membedah makna-makna tersirat yang terkandung dalam budaya nusantara dan menyajikannya dengan lezat seolah mengingatkan kembali betapa luar biasanya potensi bangsa ini dengan berbagai macam fasilitas yang sudah diwariskan oleh para pendahulunya. Jika saja setiap anak bangsa menyadari kembali keluarbiasaan yang ada dalam dirinya, maka wajah duka penuh derita Ibu Pertiwi akan lebih cepat berganti menjadi alunan nada suka cita Nusantara tercinta.
Acara sederhana namun sarat makna seperti ini akan terus bergulir dan menjadi salah satu perhatian utama Katahati Institute untuk berjuang menggemakan kembali ‘kesaktian’ Nusantara tercinta dalam wadah Green Heart Movement.







